Toleransi

Hai. Kalau baca judul artikel ini, pastinya kata ini sudah sangat familiar di telinga Anda. Terutama jika hidup di Indonesia, toleransi sudah pastinya menjadi salah satu sikap yang harus dimiliki setiap rakyatnya. Tapi apa benar, toleransi sudah terlaksana sebagaimana mestinya?

Keinginan saya untuk menulis tentang hal ini terdorong oleh suatu fakta yaitu tempat saya bersekolah saat ini sedang dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang non-muslim. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal ini sebelumnya, karena beliau juga tidak mengganggu kehidupan beragama saya selama berada di sekolah. Bahkan di bawah kepemimpinan beliau, proyek masjid sekolah yang sempat terbengkalai dalam beberapa tahun mampu dirampungkan. Namun belakangan ini, saya sedikit merasa terusik karena suatu masalah.

Pada suatu kesempatan beliau mengatakan kepada seluruh siswa perihal siswa/siswi muslim yang tidak ingin bersalaman dengan guru lawan jenis. Beliau merasa jika salamnya ditolak seakan-akan ada 'apa-apa' dengan dirinya. Padahal, siswa/siswi muslim ini hanya ingin menjalankan perintah agamanya tanpa mengurangi rasa hormat mereka kepada guru-guru yang berlawanan jenis. Saya sendiri belum dapat menjalani perintah untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis, namun saya sangat salut dan menghormati teman-teman yang sudah berketetapan hati untuk melakukannya. 

Hingga pada suatu hari, saya diajak bicara oleh salah satu wakil kepala sekolah yang cukup akrab dengan saya dikarenakan saya sering berurusan dengan beliau di masa saya menjabat sebagai pengurus OSIS di sekolah. Beliau mengatakan bahwa salah satu pengurus OSIS sekarang (adik kelas saya) ada yang sudah tidak ingin bersalaman dengan guru lawan jenis. Di pikiran saya, wah bagus dong ada adik kelas saya yang seperti itu. Namun ibu wakil kepala sekolah ini tidak menyampaikan hal ini sebagai kabar baik. Beliau berkata kepada saya seakan-akan menyuruh saya untuk memberi tahu kepada adik kelas saya ini untuk berhenti melakukan hal tersebut, tapi saya tidak bisa. Saya sendiri merasa bingung kenapa beliau sekarang ikut-ikutan berperilaku seperti atasannya? Tapi akhirnya saya hanya bisa mengatakan kepada beliau untuk segera mengkomunikasikan hal ini kepada yang bersangkutan.

Setelah peristiwa itu, saya langsung cerita ke salah satu teman saya yang juga dulu pengurus OSIS dan membidangi urusan agama. Dia satu pemikiran dengan saya bahwa saya tidak bisa melarang seseorang untuk melakukan perintah agama. Dia akhirnya membantu untuk mempertemukan saya dengan adik kelas yang dibicarakan oleh sang ibu wakil kepala sekolah, beserta beberapa siswa yang aktif di ekstrakurikuler Rohani Islam. Orang-orang ini sangat membantu masalah ini. Sampai artikel ini ditulis, belum ada kepastian bahwa ada jaminan dari sekolah untuk kami dapat melakukan perintah agama tanpa ada pandangan-pandangan miring, khususnya dari guru dan kepala sekolah beserta jajarannya.

Selama ini saya selalu berusaha untuk menghormati teman-teman atau orang yang saya kenal yang berbeda dengan saya. Baik berbeda dalam segi suku, bahasa, budaya, terlebih lagi agama. Teman-teman saya pun melakukan hal yang sama kepada saya. Kami saling mengingatkan untuk melakukan ibadah sesuai agama masing-masing. Saya seringkali mengingatkan teman saya yang Katolik untuk Doa Angelus setiap jam 12 siang. Teman saya yang berbeda agama juga sering mengingatkan saya untuk shalat setiap waktu masuk shalat. Dalam kehidupan organisasi saya, saya juga tidak terlalu mengkhawatirkan saat ada ketua ekstrakurikuler yang beragama non-muslim, karena saya yakin mereka tidak akan mengganggu kehidupan agama mayoritas. 

Namun kejadian dengan kepala sekolah ini menjadi contoh pertama yang sangat dekat dengan kehidupan saya mengenai pemimpin yang tidak seiman. Selama ini saya tidak pernah mengerti bahwa kehidupan agama seseorang dapat terganggu hanya dikarenakan pemimpin yang tidak seagama. Cukup menyedihkan bagi saya sebenarnya. Tidak, bukan berarti saya membuat stereotip hanya karena kepala sekolah saya yang satu ini. Saya hanya ingin berbagi cerita ini karena sungguh, tidak bisakah kita saling menghormati dan saling memahami perbedaan ajaran agama yang kita anut masing-masing? Terlebih untuk para pemimpin yang telah mengemban amanah dan kepercayaan, tolong jamin kehidupan beragama orang yang kalian pimpin.

Pada akhirnya, saya hanya dapat berharap agar bapak kepala sekolah saya dapat mengerti bahwa perintah agama adalah aturan yang lebih tinggi dibanding hukum negara, apalagi hanya sekadar aturan sekolah. Akhir kata, yuk kita saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada di antara kita. Indahnya hidup berdampingan meski dengan segala perbedaan.

11 November 2017, ZN.

Comments